Makanan dari ampas kelapa ialah bahan makanan yang mampu diolah menjadi banyak sekali santapan. Ada orang yang mengolahnya menjadi camilan , ada pula yang menjadikannya pendamping makanan berat. Ada perbedaan penyebutan untuk ampas minyak kelapa ini.
Untuk daerah Solo dan Yogyakarta, sering disebut kethak. Sedangkan untuk daerah lain seperti di Jawa , banyak orang menyebutnya blondo. Olahan kethak berasal dari kebiasaan masyarakat dahulu yang selalu membuat minyak dari kelapa.
Seorang penjual kelapa parut di Pasar Depok , Cinere , berjulukan Yono mengaku memiliki perjuangan sampingan berjualan kethak. Setiap bulan , Yono mampu mendapat satu atau dua orang yang memesan kethak.
Dia memang baru akan menyebarkan blondo atau kethak saat ada yang memesan. Untuk membuat kethak , Yono memakai kelapa tua yang masih segar. Kelapa itu lalu diparut dan diperas untuk menghasilkan santan.
Santan yang diperoleh lantas direbus sekitar tiga hingga empat jam atau hingga air menguap dan tersisa minyak serta ampasnya. Minyak kemudian dipisahkan dari ampas dengan cara ditiriskan. Ampas tersebut kemudian digoreng lagi hingga betul-betul kering.
Selama memasak harus terus diaduk biar tidak gosong. Hasil yang mengagumkan ialah yang warnanya kecokelatan. Dari 20 kelapa , Yono mampu menghasilkan sekitar setengah kilogram kethak.
Ia biasa menjualnya seharga Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram kepada pelanggan. Menurut Yono , perjuangan ini sebenarnya tidak terlalu serius ia tekuni , alasannya ialah ia lebih mengincar minyaknya. Tapi alasannya ialah ada yang memesan , maka ia mampu untuk membuatkan.
Banyak masyarakat di pelosok Jawa yang mengkonsumsi kethak. Bahkan , masyarakat menggunakan kethak sebagai lauk dan memakannya dengan nasi panas. Di Maluku juga ada makanan hasil olahan ampas minyak kelapa.
Di Ternate , Tidore , dan Halmahera banyak ditemukan ampas minyak kelapa dicampur dengan cabai untuk diolah menjadi sambal. Di Tapanuli Selatan , banyak pula masyarakat yang mencampurnya dengan nasi goreng.
Di Minahasa yang kaya akan hasil bumi kelapa , kethak juga masuk hitungan. Taiminyak, begitu masyarakat Minahasa biasa menyebutnya , dianggap sebagai penyedap masakan.
Tumisan daun gedi dengan campuran bawang putih dan kethak akan membuat rasanya semakin gurih dan sedikit manis. Rasanya yang manis-manis gurih memang membuat ampas minyak kelapa ini cukup populer di banyak sekali wilayah nusantara.
Saat ini , kethak memang belum banyak diolah secara khusus. Ampas minyak kelapa hanya diproduksi dalam skala rumahan. Sementara untuk mengembangkan masakan ini diharapkan bahan yang banyak.
Imbas dari produksi minyak kelapa sawit , membuat praktik pembuatan minyak kelapa sudah jarang dilakukan. Kaprikornus , ampas minyak kelapa ini sekarang sudah mampu disebut langka , yang akibatnya membuat kethak tidak banyak diolah secara khusus.
Oke sobat demikian adalah artikel tentang kethak camilan dari ampas minyak kelapa dengan berbagai kreasi. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan kalian bisa mencoba membuatnya sendiri dirumah. Selamat mencobanya semoga berhasil.